Thursday, March 31, 2011

Nih, Efek Gap Busi Terlalu Rapat atau Longgar


 Pastikan gap busi tepat
Celah atau gap busi tidak sesuai peruntukan membuat letikan api busi jadi tidak maksimal. Dan itu cenderung merusak komponen pendukung, macam koil. Celah busi umumnya 0,6 mm hingga 0,8 mm. Jika lewat dari batas itu, ada konsekuensi. Gap terlalu renggang, risikonya jauh lebih besar ketimbang rapat.
Gap terlalu jauh sering missfire. Pembakaran tidak sempurna akibat busi enggak stabil meletikan api. Stasioner atau idel mesin enggak normal, boros bensin dan bikin lemah koil.
Sebaliknya gap busi terlalu rapat, juga bisa bikin mesin cepat panas. Malah ketika diajak berakselerasi, timbul gejala ngelitik. Itu lantaran gas bakar yang tidak terbakar sempurna dan masih banyak yang tidak terpantik.
Untuk memastikan, MOTOR Plus buktikan di motor baru. Di Suzuki Smash Titan 115. Ketika gap busi diseting sangat rapat, saat langsam memang tidak ada masalah. Namun begitu grip gas dibuka besar dan rpm mesin berputar lebih tinggi, terasa putarannya lambat naik. Apalagi ketika diajak berkendara di jalan, tenaga terasa lemah. Rasanya kayak motor ditahan dari belakang.
Sebaliknya kalau gap renggang. Saat mesin dihidupkan, langsam memang terasa agak cepat dari biasanya. Tapi, begitu grip gas dibuka lebar, putaran mesin atasnya baru terasa ada gejala misfire. Terdeteksi munculnya mbrebet di rpm tinggi dan terkadang juga muncul letupan.
 
Sumber : motorplus-online.com

Tuesday, March 29, 2011

Bikin Lincah Shogun, Smash dan Titan Dengan Tabung Sok Depan Satria 120R


 Posisi lubang as roda depan ada di tengah tabung, bukan di depan macam Shogun 125 atau Titan 115
Motor lincah dipengaruhi sumbu roda lebih pendek. Cuma masalahnya, tidak semua motor seperti itu. Kalaupun ingin diubah, tidak mungkin juga pake digeser mundur. Risikonya komstir tidak center lagi.

Nah, motor yang bisa pendekin jarak sumbu roda depan tanpa ubah komstir yaitu Suzuki Shogun 125, New Smash atau Titan 115. Ketiganya bisa dibikin lincah hanya dengan menerapkan sokbreker Satria 120R atau Suzuki Skywave 125 .
Kelebihan sok Satria 120R atau Skywave bukan cuma tabungnya (sangkar) yang gede. Tapi, posisi lubang as roda depan ada di tengah atau bawah tabung, bukan di depan macam ketiga motor itu. Itu sebabnya kenapa sok depan Satria 120 sampai sekarang masih dipakai di balap.

Posisi as roda di bawah tabung sok depan Satria jelas membuat jarak sumbu roda makin pendek. Sehingga radius putar setang saat meliuk di tikungan makin cepat, makanya bisa lincah. Sedang keunggulan tabung sok lebih besar, pastinya membuat daya redam dan rebound jadi makin halus.

Untuk menerapkan sok depan Satria 120R ke Shogun 125, New Smash atau Titan 115, tidak perlu khawatir pipa teleskopik tidak bisa masuk ke segitiga. Kebetulan diameter pipa sok Satria 120R atau Skywave sama, yaitu 27 mm.


 Tak perlu khawatir karena diameter pipa teleskopik sama 27mm
Meskipun diukur secara keseluruhan, ternyata masih tinggi punya Satria 120R dengan selisih 3 mm dibanding punya Titan 115. Milik Titan kalau diukur panjangnya sekitar 45 mm. Tapi, ketinggiannya masih bisa diatur dengan cara pendekin pipa di segitiganya.

Lalu peranti yang mesti disediakan untuk ganti peredam kejut depan di antaranya 2 pipa teleskopik, tabung sok, pegas utama, pegas suling berikut sulingnya. Kalau ditotal harga per set kurang-lebih Rp 400 ribuan untuk part baru.

Harga itu belum termasuk ongkos pasang roda depan di sokbreker depan. Enggak terlalu mahal sih, lantaran memang masih perlu ada penyesuaian di as roda depan, bushing as dan dudukan kaliper rem depan.

Meski diameter as roda sama, cuma ukuran as roda Satria 120R lebih panjang karena sekarang sudah ada di tengah. Makanya as roda juga kudu pakai dari Satria 120R.

Sedang penyesuain di kaliper, lantaran posisi pegangan baut adaptor juga sudah ikut bergeser. Makanya kudu bikin adaptor kaliper baru. Karena posisi dudukan dua baut di tabung sok Satria 120 lebih berjauhan. 



Sumber : motorplus-online.com

Saturday, March 26, 2011

Pelindung Sokbreker Depan? Manfaatkan Pipa Paralon


 Amankan sok dari benda keras

Pernah lihat dong pelindung pipa sokbreker depan Suzuki Satria F- 150? Kalau ya, pasti ada alasan kenapa pabrikan Suzuki mendesain fitur itu di komponen peredam kejutnya.
Pastinya untuk mengamankan sok dari benda keras atau kasar. Terutama pipa teleskopik yang dikalungi sil O-ring. Sehingga oli sok di dalam tabung enggak bocor akibat sil tergores kotoran.
Berbekal itu, coba ambil ide pelindung sok depan Satria F-150 itu untuk motor sport Honda GL-Pro. Kebetulan peredam kejut varian ini tampak lebih telanjang, jika dibanding tipe bebek yang sudah dilindungi sepatbor depan.
Supaya performa tabung sokbreker tetap bagus juga tahan lama, sokbreker depan tunggangannya ikut dikasih pengaman. Terutama di bagian atas tabung sok yang kebetulan dekat sil O-ring dan pipa teleskopik.

 Pipa paralon. Lentur dan bisa diatur dengan menghangatkan permukaannya

Cuma berhubung pelindung sok Satria F-150 tidak dijual bebas, dan memang tidak diperuntukan untuk motor tipe lain. Terpaksa deh putar otak agar bisa bikin dari bahan baku lain.
Paling mudah manfaatkan pipa paralon untuk aliran air. Untuk tabung sok depan Honda GL-Pro bisa pakai ukuran diameter 1,5 inci. Nggak perlu beli. Minta aja ke tetangga yang kebetulan lagi bangun rumah.
Untuk melindungi sokbreker depan motor laki tadi, tinggi pipa paralon yang dibutuhkan sekitar 6 cm buat satu tabung. Kalau buat dua tabung siapkan aja sekitar 15 cm. Takutnya kalau masih kelihatan pendek atau gagal saat pemotongan. Malah buang banyak paralon.
Lanjut! Pipa panjang tadi dibagi dua masing-masing 7,5 cm. Kemudian dibentuk menyerupai pelindung sok depan yang ada di Satria F-150.
“Biar mudah paralon dibentuk pakai gergaji besi. Kemudian profil lekukan diperhalus pakai kikir setengah bundar. Dan biar tidak terlalu tajam, bekas kikiran kambali diperhalus ampelas,” lanjutnya
Supaya kelihatan menarik, baiknya dicat warna hitam. Lantas untuk menerapkannya, lingkar pipa dipotong dulu agar mudah saat dikalungkan ke tabung sok.
Agar bisa merekat dengan baik dan sempurna, jangan lupa dikasih perekat. Bisa berupa lem atau boleh juga isolasi bolak balik alias double tape. Apalagi kelenturan paralon bisa diatur hanya dengan menghangatkan permukaannya.

Sumber : motorplus-online.com

Friday, March 18, 2011

Atasi Mesin Overheat Dengan Satu Sendok Teh Oli


Ada dua penyebab mesin 4-tak overheat. Bisa karena oli enggak bersirkulasi dengan baik, atau clearance seher atau piston di liner silinder terlalu rapat.

Cuma, kalau oli tidak bersirkulasi baik, banyak komponen yang bakal kena masalah. Bisa noken-as, piston, laher kruk-as atau girboks. Hal ini lantaran tidak ada pelumas yang melindunginya saat bekerja.

Lain halnya bila celah piston di liner terlalu rapat setelah oversize atau bore up. Ketika overheat, piston yang memuai akan mengancing di dinding liner silinder. Mesin pun otomatis mati mendadak.

Jika terjadi seperti itu, tetap tenang dan jangan panik. Terlebih selama oli masih tetap bersirkulasi. Kalau memang kondisi seher terkancing di liner, tunggu dulu sampai mesin benar-benar dingin. Tapi, jangan didinginkan paksa pakai air. Sebab ring seher rawan patah.
Cara paling baik yang bisa dilakukan adalah memasukkan oli ke dalam ruang bakar lewat lubang busi secukupnya. Kira-kira satu sendok teh. Baiknya sih gunakan oli baru agar tidak banyak kerak bila mesin kembali hidup.
Setelah mesin dingin dan oli masuk ke ruang bakar, coba elektrik starter ditekan perlahan. Hal itu dilakukan untuk memungkinkan piston kambali bergerak sekaligus terlumasi. Lalukan berulang kalai sampai benar-benar lancar. 

Sumber : motorplus-online.com

Thursday, March 17, 2011

Utak-Atik Pengapian, Bikin Total Los

Berat lempengan pengganti bisa diatur
Pengapian tanpa magnet atau biasa dibilang total loss. Di Indonesia, pertama muncul di awal tahun 2000-an. Waktu itu dikenalkan oleh Bobeng alias Sugiono dari Purwokerto.
Ketika itu dianggap aneh. Karena motor yang menggunakan CDI umumnya masih sistem AC. Arus listrik buat CDI di suplai dari sepul yang masih AC walaupun dilewatkan kiprok terlebih dahulu.
Namun selanjutnya pangapian sistem CDI muncul di Suzuki Shogun 125, menggunakan arus DC. Sehingga arusnya bisa disuplai dari aki. Meski sepul mati, mesin tetap hidup asalkan setrum aki masih cukup untuk CDI,.
Dari situ sebenarnya imbas magnet bisa tidak dipakai. Apalagi kalau sudah menggunakan magnet bikin berat kerja mesin. Biar putaran enteng, bisa lepas magnet.Lepas magnet sama saja disebut total loss. Namun untuk tahap satu, total loss bisa dilakukan hanya dengan melepas sepul dahulu. Di motor sekarang, itu bisa dilakukan di Yamaha Mio atau Jupiter.
Dilepasnya sepul magnet, bisa bikin putaran mesin ringan. Karena tidak ada gaya tarik antara magnet dengan besi angker di gulungan sepul.
Namun masih banyak yang merasa kurang puas jika hanya melepas sepul. Akhirnya juga lepas lempengan besi berani di mangkuk magnet. Caranya cukup dicungkil dengan pahat baja dan palu.
Lempengan magnet standar dilepas. Cara mudah total los
Teknik ini juga disebut dengan total loss walau masih menggunakan mangkuk standar. Dan jika dirasa masih kurang ringan, selanjutnya tinggal bubut lagi mangkuk magnetnya.
Tetapi, masih banyak yang sayang mengorbankan magnet standar. Karena harganya cukup mahal. Untuk itu, bisa diganti dengan lempengan besi yang lebih tipis dan ringan.
Besar lempengan pengganti magnet, paling gampang punya diameter seperti magnet asalnya. Sehingga CDI DC yang dipakai bisa pakai yang sesuai aslinya. Juga diikuti membuat tonjolan di lempengan besi itu untuk pick sensor. Atau biasa disebut sensor pulser.
Tinggi tonjolan 1,2 sampai 2 mm. Panjang tonjolan ini ukurannya mengikuti yang standar. Atau tergantung CDI yang mau dipakai. Misalkan Honda Karisma atau Supra X 125 punya panjang pick up pulser 38 mm.
Untuk motor Yamaha seperti Vega R, F1Z-R, Jupiter, Nouvo, Mio, Jupiter MX 135 dan New Mio ukuran pick up pulser sama. Yaitu 57, 55 mm. Yang beda hanya Yamaha Xeon, hanya 47,8 mm.
Sedangkan Suzuki punya panjang pick up pulser beda-beda. Seperti Shogun 125 ukurannya 30 mm. Sedangkan Satria F-150 yaitu 39 mm.
Penting dan perlu diperhatikan, posisi pick up pulser harus sama ketika dipasang. Tentu agar derajat atau timing pengapian sama ketika menggunakan magnet standar dan bandul buatan.
Urusan pemasangan lempengan pengganti magnet kebanyakan mekanik memanfaatkan dudukan aslinya. Caranya, ya harus lepas paku kelingnya dulu.
Kemudian dudukan magnet yang ada alur buat spi magnet itu disatukan dengan lempengan besi buatan. Diikat menggunakan paku keling lagi. Jangan lupa dibalance kembali biar tidak getar.

Jarak pulser ke tonjolan 0,7 mm
CDI DC
Zaman sekarang, sudah enak bikin pengapian total loss. Sebab rata-rata CDI motor sekarang sudah menggunakan sistem DC. Tinggal pilih yang mana dan menyesuaikan panjal tonjolan atau pick pulsernya.
Bahkan banyak tersedia berbagai merek yang bisa diprogram. Sehingga lebih enak untuk berkreasi sesuai dengan setingan mesin.
Namun yang perlu diwaspadai menggunakan total loss bisa mengurangi torsi. Di putaran atas bisa hilang torsinya. Kalau didukung joki yang kelewat berat, torsinya jadi tidak terasa. Makanya lempengan besi pengganti magnet juga tidak bisa dibikin seringan mungkin.

Paling penting lagi, kudu pas meletakkan posisi pulser. Tolerasni jarak dari tonjolan pick up sensor yaitu 0,7 mm. Jangan kelewat jauh atau terlalu dekat. Malah jadi kurang akurat.

Sumber : motorplus-online.com

Wednesday, March 9, 2011

Otak-Atik Pengapian: Magnet YZ125= Magnet Jupiter?


 Ukuran magnet YZ dan Jupiter sama secara hitungan

Tempo doeloe banyak yang mengandalkan magnet spesial engine (SE) buat roda race atau drag bike. Kebanyakan menggunakan magnet Yamaha YZ. Padahal kalo dipikir, buang-buang uang. Kenapa Om?
Magnet yang dirancang Yamaha,  secara hitungan sama untuk semua tipe motornya. Seperti magnet YZ hitungannya sama dengan magnet Jupiter-Z, Mio dan Vega. Enggak percoyo?
Yuk lihat dimensinya.  Magnet Yamaha Mio, Jupiter maupun Vega, memiliki diameter luar 112 mm.
Sedangkan pick up pulser atau panjang tonjolan di magnet 57,5 mm. Dua ukuran ini berlaku hampir pada semua tipe motor Yamaha yang dipakai harian.
Bisa dibandingkan dengan magnet spesial engine pabrikan Yamaha itu. Yuk lihat magnet YZ yang punya diameter lebih kecil. Kalau diukur menggunakan sigmat sekitar 75 mm. Dimensi kecil untuk mengejar putran ringan, ujung-ujungnya supaya putaran mesin tidak berat.

Begitupun panjang pick up coil atau tonjolan di magnet. Ukuran pastinya 38,5 mm. Ini menggunakan rumus perbandingan.
Yuk dibuktikan kalau dua ukuran berbeda itu secara hitungan sama. Bisa manual atau pakai rumus. Kalau manual, gunakan jangka dan penggaris. Bisa langsung ketahuan.
Tapi, bagi yang mau menggunakan rumus mudah juga bisa. Formulanya:

PP1         PP2
-------  =  -------
D1           D2

PP1 = Panjang pulser magnet besar
PP2 = Panjang pulser magnet kecil
D1 = Diameter magnet besar
D2 = Diameter magnet kecil

Seperti diameter magnet Jupiter-Z ukurannya 112 mm dengan panjang pick up pulser 57,5. Sedang diameter magnet YZ yaitu 75 mm. Yuk dibuktikan kalau panjang tonjolan di magnet YZ ukurannya 38,5 mm. Dari rumus itu:

D1 = Diameter magnet Jupiter-Z 112 mm
PP1= Panjang tojolan magnet Jupie 57,5 mm
D2 = Diameter magnet YZ 75 mm
PP2 = Panjang pulser magnet YZ berapa?

Dari rumus:

PP1         PP2
-------  =  -------
D1           D2

Angkanya bisa dimasukkan ke dalam rumus, jadinya:

57,5            PP2
-------  =  -------
112           75

Maka panjang tonjolan pulser di magnet YZ yaitu:

            57,5 x 75 
PP2 = ---------------
                 112

PP2 = 38,5 mm


  Panjang pulser magnet YZ 38,5 mm. sedang Jupiter 57,5 mm.
Terbukti kan? Kalau magnet Jupiter-Z, Vega dan Mio secara hitungan sebenarnya sama dengan YZ. Jadi, ngapain pakai magnet YZ kalau punya Jupiter bisa dibubut untuk dibikin ringan.

Bagaimana jika magnet Honda Karisma atau Blade mau dibikin kecil pakai lempengan besi seperti milik YZ yang punya diameter 75 mm. Tapi, tetap menggunakan CDI asli Honda Blade. Berapakah panjang tonjolan di magnetnya?

Dari diameter magnet Blade 112 mm  (D1) dengan tonjolan di magnet 38 mm (PP1). Jika mau dibikin seperti magnet YZ yang berdiameter 75 mm (D2), tonjolan di lempengan (PP2) bisa dihitung:
       
    38            PP2
   -------  =  -------
     112           75

PP2 = (38 x 75)/112 =25,5 mm

Jadi, kalau Blade mau pake magnet atau lempengan seukuran diameter YZ yang 75 mm, panjang tonjolan magnet 25,5 mm. Ini pakai CDI Blade.
Tapi, kalau Blade mau pakai magnet asli YZ, tinggal pake CDI Jupiter-Z saja. Kan gampang.


 CDI YZ bisa pake dari Vega (AC) atau Jupiter-Z dan Mio (DC). Pilih yang programable biar setara vortex
Magnet YZ dengan CDI Jupiter
Dari penjelasan di atas, magnet YZ secara hitungan sama dengan magnet Jupiter, Vega dan Mio. Makanya CDI yang digunakan juga bisa saling tukar. Tapi, harus tetap memperhatikan sistem AC atau DC.
Jika menggunakan magnet YZ dan sistemnya seperti asal atau AC, gunakan CDI yang AC juga. Misalnya menggunakan CDI Vega-R yang punya CDI sistem AC.
Tentu banyak yang masih ingat. Dulu pengapian Yamaha Vega sangat bertaji di road race. Bahkan bisa bejaban dengan pengapian Vortex yang notabene menggunakan magnet YZ itu.
Baru sekarang kita punya jawaban. Terbukti magnet Vega hitungannya sama dengan YZ. Bahkan lebih akurat menggunakan magnet Vega. Alasan magnet Vega lebih simpel lihat tulisan di bawah ya.
Selain menggunakan CDI Vega yang AC, bisa saja magnet YZ dipadu CDI Jupiter-Z atau Mio. Tapi, sistemnya harus diubah. Tidak lagi pakai AC, kudu jadi DC. Caranya suplai arus listrik menggunakan aki. Sepulnya bisa dilepas.

Sumber : motorplus-online.com

Thursday, March 3, 2011

Yamaha New Mio, Vega ZR Dan New Jupiter-Z Jangan Asal Colok CDI


 Posisi kabel di soket mio lama dan baru

Sudah banyak kasus fatal. CDI Mio dan New Mio saling tukar. Akibatnya CDI terbakar dan keluar asap tebal. Sebabnya, walau soket sama namun posisi kabel berbeda.
Taunya, soket sama tapi posisi kabel berbeda. Itu juga terjadi di Yamaha Vega ZR dan New Jupiter-Z.
Paling gampang, coba perhatikan soket CDI (lihat gambar). Di Mio dan Jupiter-Z lama, terminal nomor 1 diisi kabel oranye yang menuju koil. Kalau di New Mio dan New Jupiter-Z diisi kabel merah yang menuju pulser.
Kalau asal colok, kabel dari koil dan pulser jadi tertukar. Ini yang menyebabkan CDI terbakar dan mati.
Lebih fatal lagi yang tertukar kabel setrum. Di Mio lama, kaki terminal nomor 4 diisi kabel setrum 12 volt. Namun di Mio baru, kaki nomor 4 massa bodi. Kalau CDI Mio baru dipasang di Mio lama, ini yang menyababkan keluar asap. Sebab antara setrum positif dan negatif bertemu.

Untuk mengakalinya agar bisa saling tukar, sebenarnya bisa ditempuh dengan cara modifikasi. Posisi kaki-kaki di soket CDI diatur ulang. Silakan dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Misalnya Mio lama mau menggunakan CDI New Mio. Bisa saja asal mau atur ulang kabelnya. Disesuaikan dengan seperti soket New Mio. Ini tinggal mekanik yang menyesuaikan. Biar tidak salah, lihat gambar ya.


 Bentuk dan ukuran soket sama antara Mio lama dan New Mio
Koil Ikut Mati

Kejadian saling tukar CDI Mio lama dan baru memang bisa berakibat fatal. Tidak hanya CDI yang akan terbakar. Kemungkinan kabel bodi juga ikut hangus. Lebih parah lagi koil juga jadi lemah.
Seperti dialami di Yamaha Mio milik Sulaeman itu. Mekanik sampai dua hari melacak kenapa mesin tidak mau hidup. Padahal sudah tukar magnet dan sepul dengan motor normal.
Termasuk kabel bodi juga diurut ulang. Dicari sekaligus diteliti semua sambungan yang putus atau hangus. Tapi, tidak juga ditemui adanya kabel rusak atau terlepas. Apalagi sampai getas.
Saking pusingnya, mekanik yang membetulkan sampai ganti sasis dan kabel bodi sampai dua kali. Setelah diingat-ingat, memang benar. Meski gonta-ganti sasis namun koil tetap nempel. Jadinya mesin tetap tidak mau nyala.
Rupanya koil ikut lemah. Padahal ada api busi dan bensin penuh. Tapi, mesin tidak mau hidup. Biangnya koil ikutan lemah imbas dari asal colok CDI.
Koil lemah bikin pengapian kecil. Nyala bunga api jadi ikut kecil. Tidak kuat menahan kompresi yang besar di ruang bakar. Meski dilihat ada api, dipastikan mesin akan tetap tidak mau nyala.
Begitu dilakukan penggantian koil, mesin langsung hidup dan normal. Ini pengalaman berharga dan bisa dibagi kepada semua pembaca setia.
Jika mengalami hal serupa, buruan ganti koil. Sebab walaupun bensin penuh dan ada nyala api dari koil, tetap saja mesin tidak mau hidup. Sebabnya ya itu tadi, nyala api koil kecil.
Diingatkan jangan sampai bongkar yang lain- dan buang waktu. Koil lemah tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan mesin untuk hidup.   
Sumber : motorplus-online.com

Waspada Pakai CDI Shogun


Sampai sekarang, banyak yang masih latah menggunakan CDI Suzuki Shogun 110. Katanya bebas limiter dan paling simpel. Padahal tidak tahu alasan teknisnya. Kenapa?

Perlu diwapadai, asal pakai atau caplok itu bahaya. Walau bebas limiter, tapi pengapian bisa kelewat maju. Piston bisa bolong, karena piston sedang naik, bunga api meletik lebih awal. Akhirnya piston beradu dengan ledakan. Bisa pecah.

Misalkan CDI Shogun 110 dipasang di Honda Karisma. Ketika putaran menengah ke atas, timing pengapian mencapai 53 sebelum TMA. Sangat advance atau kelewat awal. Piston bisa bolong.
Padahal, pengapian Shogun 110 standar, timing terbesar 29 sebelum TMA. Dipakai di Karisma sangat jauh majunya. Untuk itu harus tahu cara kerja dan modifikasinya supaya Karisma bisa pakai CDI Shogun dan aman.
Cara kerja CDI Shogun 110 masih analog. Sehingga sangat mudah seting timing pengapian secara mekanis. Mekanik awam juga bisa melakukan.
Derajat timing pengapian bisa diatur lewat panjang pick up pulser. Tonjolan pick up pulser bisa dilihat di mangkuk magnet. Di Shogun panjangnya hanya 14 mm. Kalau Karisma 38 mm.
Ketika langsam sampai dengan putaran mesin mencapai 2.500 rpm, timing pengapian hanya 15 sebelum TMA.

Angka 15 didapat dari jarak ujung tonjolan belakang pick up sampai posisi pulser 15 mm atau 15. Lebih jelas lihat (Gbr. 1). Bisa mudah dibaca?
Pada putaran mesin lebih dari 2.500 rpm, timing pengapian akan bertambah. Yaitu 15° ditambah panjang pick up atau tonjoan Shogun yang 14 mm. Berarti timing jadi 15 + 14 = 29 derajat.

Bayangkan kalau dipasang di Karisma yang punya tonjolan pick up 38 mm. Jadinya timing pengapian 15° + 38° = 53° sebelum TMA. Sangat maju sekali dan harus dimodifikasi. 
Modifikasi tergantung kemauan dari mekanik. Misalkan timing pengapian masih tetap seperti Shogun 110. Maka panjang tonjolan pick up di magnet Karisma harus dipotong.
Bagian mana pick up yang dipotong? Agar tidak salah kaprah perhatikan arah putaran mesin. Nah, tonjolan yang dipotong atau diratakan bagian depan. Kalau dilihat bagian sebelah kiri.
Untuk meratakan tonjolan pick up, bisa menggunakan gerinda. Panjang pemotongan bisa dihitung.  Panjang pick up Karisma dikurangi panjang pick up Shogun 110. Jadinya panjang yang dipotong 38-14 mm = 24 mm.

 Pick up yang di potong bagian depan (kiri). Panjang pick up pulser. Dimodif sesuai derajat di mau. Tapi hanya untuk CDI Analog (kanan)
Dengan begitu, timing pangapian akan menjadi 15 + 14 = 29 derajat. Tapi, bagaimana jika pengapian kepingin lebih maju lagi. Seperti CDI racing misalnya jadi 32 mm.
Sangat gampang sekali. Tinggal dikalkulasi dengan cara sederhana. Timing awal atau langsam 15°, agar jadi 32 tinggal ditambah dari panjang pick up. Jadinya panjang pick up harus dibuat menjadi 17 mm.

Jangan Terbalik
Sebenarnya sayang kalau motor yang baru kembali lagi menggunakan CDI Shogun. Itu bisa dibilang sama seperti kembali lagi ke zaman dulu.
Untuk menghilangkan limiter, caranya bisa menggunakan CDI yang unlimiter atau racing. Karena sekarang sudah dijual murah. Bahkan lebih murah dari CDI Shogun standar.
Misalkan CDI Varro yang promosinya unlimiter. Walau kurva pengapian sama dengan standar namun tetap lebih maju dibanding CDI Shogun yang perubahan timingnya hanya sedikit. 
Yang dimaksud sedikit timingnya hanya 15 di rpm bawah dan 29 lewat dari langsam. Kurvanya akan begitu sampai rpm tinggi. Ini tidak menguntungkan, padahal di motor sekarang bisa berubah setiap 3.000 rpm
 Selain itu, juga bisa merusak magnet. Sebab pick up atau tonjolan di magnet harus digerus. Kalau dikembalikkan lagi ke versi standar jadi lebih susah. Tetap CDI racing lebih fleksibel karena bisa diprogram.

Kurva Sederhana
Pada CDI analog, memang susah dibikin beberapa step pengapian. Timingnya hanya terbatas untuk langsam dan putaran tinggi. 
Seperti CDI Shogun 110. Pada saat langsam, timing pengapian 15 sebelum TMA. Pada putaran menengah dan rpm tinggi stag di 29. Akan turun di rpm lebih dari 11.000.
Tidak seperti CDI digital yang banyak dipakai di motor sekarang. Timing pengapian bisa dibuat beberapa step. Bisa diprogram setiap 500 atau bahan 100 rpm bisa dibuat berubah.
Makanya CDI analog ditinggalkan oleh pabrikan motor sekarang.  Ciri CDI analog ini pada ukuran pick up pulser, sangat pendek. Seperti Suzuki Shogun 110 punya panjang pick up hanya 14 mm.
Berbeda dengan motor yang menganut CDI sudah digital. Seperti Karisma panjang pick up 38 mm. Yamaha Jupiter-Z atau Mio 57,5 mm. Ini yang membuat bisa diprogram dalam banyak step.  
Sumber : motorplus-online.com

Adsense